Titin Natalia
Fenomena caleg selebriti memang kini sangat ramai dibicarakan, fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak jaman dahulu. Hal ini terlihat dari apa yang ditulis dalam penelitian Alfito Deanoffa dalam bukunya “Selebriti mendadak Politisi” ( 2008 ). Dalam buku tersebut dikatakan bahwa raja dangdut, Rhoma Irama telah masuk menjadi politisi pada pemilu 1977 dan 1982, dimana ia menjadi juru kampanye Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pada masa orde baru, artis yang ingin masuk ke dunia politik seolah dipaksa untuk masuk ke dalam partai golkar, maka Rhoma Iramapun mengalami kesulitan. Ia dicekal selama sebelas tahun. Setelah peristiwa itu, Rhoma Irama pun keluar dan ia memutuskan untuk lepas dari juru kampanye. Ia berdiri sendiri tanpa memihak kepentingan manapun, meskipun pada akhirnya ia pun berbelok ke partai Golkar dan ia mampu meraup massa yang banyak.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, Ronald Reagan pernah menjadi presiden Amerika untuk dua term yaitu dari tahun 1981-1989, dan Arnold Schwarzenegger juga masih menjadi gubernur California dari tahun 2003-sekarang. Juga di Asia Tenggara kita mengenal Joseph Estrada yang pernah menjadi Presiden Philippines dari tahun 1998-2001.( http://alinur.wordpress,com/2008.04/03/fenomena-artis-jadi-politisi/)

Artis adalah tokoh yang popular di mata masyarakat sehingga dirasa cukup efektif untuk menjadi media penarik massa. Mungkin karena itulah, sejak Pemilu 2004, dimana pemilihan dilakukan dengan cara mencoblos salah satu partai politik dan satu calon anggota DPR, DPRD provinsi dan DPRD Kebupaten/kota di bawah tanda partai politik, maka artis mulai ramai digaet oleh banyak partai politik.

Selain artis yang cukup efektif sebagai media penarik massa, masuknya caleg artis dalam pemilu kali ini juga menguntungkan partai peserta pemilu dimana para artis tersebut bernaung. Hal ini disebabkan karena dengan masuknya artis menjadi politisi, maka media massa, khususnya media infotainment akan memburu artis tersebut untuk mencari berita tentangnya. Dengan begitu maka partai akan lebih menghemat dalam pengeluaran biaya.

Kepopuleran artis memang cukup menggiurkan dalam menarik perhatian massa, namun bukan berarti bahwa artis yang masuk ke dalam dunia politik tersebut hanya mengandalkan kepopuleran belaka. Banyak juga artis yang memang berkualitas dalam dunia politik. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai kemampuan dalam dunia kepartaian. Hal ini terlihat dari pernyataan Butet yang mengatakan bahwa Nurul Arifin dan Rieke Diah Pitaloka memiliki pengalaman dan kemampuan yang sudah teruji di partai politik, sehingga layak jika menjadi anggota legislatif. ( http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=8154&Itemid=701 )

sebenarnya, saya sudah menyiapkan tabel-tabel yang berisikan nama-nama artis yang masuk dalam dunia politik tahun 2009 dan tahun 2004 untuk melihat berapa banyak perkembangannya. Namun, karena kesalahan teknis, maka mohon maav jika tabel tersebut tidak dapat ditampilkan.

sebenarnya, banyak selebriti yang masuk di dalam dunia poltik adalah hal yang wajar, karena semua orang mempunyai kedudukan yang sama dalam dunia politik. Namun, yang jadi masalah disini adalah apakah para artis tersebut benar-benar berkompeten dalam dunia politik apakah mereka hanya menjual muka sebagai alat untuk mengumpulkan massa?

pemberitaan di media memang terkadang menimbulkan stereotipe tersendiri jika artis menjadi politisi. Pelabelan yang ada itu mungkin dikarenakan dunia artis yang sangat berbeda dengan dunia politik.

Jadi, bagi para artis yang hendak mencalonkan diri untuk masuk dalam dunia politik, hendaklah mereka berkaca diri, apakah mereka pantas untuk itu, apakah pengetahuan yang mereka miliki sudah sangat memadai, dan mereka cukup berkualitas untuk mengatakan "Ya, saya sanggup untuk manjadi wakil rakyat!" Ini bukan ajang coba-coba.

Dan untuk kita semua jangan kemudian mengeneralisasikan kalau artis tak layak untuk menjadi politisi. Karena tak jarang juga ada artis yang memang benar2 berkompeten dalam dunia politik. COntohnya saja, Rieke Dyah Pitaloka dan Nuruk Arifin.
0 Responses

Posting Komentar